Skip to main content

PESONA INDONESIA: Karangsambung, Black Box Alam Semesta di Pulau Jawa

Halo! Apa kabar pembaca hari ini? Melewati triwulan pertama di tahun 2021 apakah menyenangkan? Penulis berharap kehidupan pembaca berjalan dengan baik dan lancar untuk segala urusannya. Hehe.. Untuk mengurangi kejenuhan sebelum menempuh triwulan kedua di tahun 2021 ini penulis mau ajak pembaca jalan-jalan nih! Kali ini kita bakal menyusuri daerah selatan pulau Jawa, kira-kira dimana yaa? Bukan Jogja, bukan. Dalam Pesona Indonesia kali ini kita akan mampir ke salah satu geowisata yang mahaseru buat para pecinta sejarah dan geologi. Daripada terlalu lama yuk disimak apa saja keseruan dari rekomendasi wisata kali ini!

Sumber: google.com

Geowisata Indonesia: Lantai Dasar Samudera Purba yang Kaya


Gugusan perbukitan membentang di kanan dan kiri jalan saat memasuki perjalanan bukit dan lembah menuju aliran Sungai Luk Ula, yang berada sekitar 19 km dari sebelah utara pusat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gugusan tersebut memiliki dinding-dinding batu raksasa dengan menampilkan lapisan-lapisan perbatuan yang unik. Beberapa pakar geologi internasional bahkan menyebutnya sebagai Yellowstone National Park-nya Indonesia—itulah Karangsambung.
    Karangsambung merupakan objek wisata sekaligus cagar alam geologi yang dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Situs geologi Karangsambung memiliki berbagai jenis batuan; batuan beku, batuan metamorf, batuan sedimen. Karangsambung merupakan lantai samudera purba yang kini muncul ke permukaan tanah sehingga memiliki kekayan fosil dan bebatuan alam. Kawasan Karangsambung sendiri ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi Nasional pada 10 November 2006 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Total luas situs geologi tersebut kini seluas 22.150 meter persegi yang membentang di tiga kabupaten yaitu Kebumen, Wonosobo dan Banjarnegara. Lokasi terluas ada di Kebumen. 
    Jika Anda ingin mengetahui bentuk batuan dasar pembetuk Pulau Jawa; penasaran mengenai penampakan gugusan lava (berupa bantalan beku) yang menempel diatas batuan sedimen yang hanya ada di pematang samudera—seperti halnya ditemui di Hawaii, semua kekayaan geologi purba ini terbentang di situs Karangsambung.


Sumber: google.com

Karangsambung: Black Box Alam Semesta?

Area Karangsambung menjadi miniatur geologi Indonesia karena sejarah dan proses terbentuknya yang dimulai sejak ratusan tahun silam. Memang nama Karangsambung masih asing bagi telinga wisatawan awam, tetapi tidak bagi pecinta geowisata tanah air hingga mancanegara. Kawasan cagar alam geologi seluas sekitar 22.000 hektar ini layaknya kotak hitam (black box) bagi segala proses alam semesta.

Karangsambung menyimpan pelbagai monumen geologi yang sangat unik. Ini tidak lepas dari letak geografis wilayah ini sekitar 120 juta tahun lalu yang merupakan dasar laut dan menjadi pertemuan lempeng benua dan samudra. Proses subduksi selama ratusan juta tahun menyebabkan batu-batuan purba itu tersingkap ke permukaan. Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI, Suyamto mengatakan, beberapa situs bisa dipelajari untuk mengetahui sejarah Bumi, khususnya proses evolusi lempeng Asia bagian tenggara.

Misalnya, situs batuan metamorf serpentinit di Pucangan. Batuan ini berwarna kehijauan dan berasal dari perut Bumi di bawah lantai samudra. Batu ini merupakan batu ultrabasa hasil pembekuan magma pada kerak samudra. Formasi batu ini berubah saat bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk zona tunjaman dan terangkat ke permukaan Bumi.

Salah satu kekayaan utama cagar alam geologi ini adalah batuan metamorf sekis mika di Kali Brengkok. Di sini pengunjung bisa menyentuh langsung batuan mineral mika yang berkilau kala tertimpa sinar Matahari. Batuan tertua ini tersingkap dan menjadi pembentuk fondasi Pulau Jawa. Pengukuran dengan radioaktif menunjukkan batuan ini berumur 121 juta tahun, dari zaman kapur.

Fenomena geologi lain yang tersingkap di kawasan yang secara geografis membentang di Kebumen, Banjarnegara, dan Wonosobo adalah situs batu rijang dan lava basal berbentuk bantal di Kali Muncar. Batuan sedimen ini terbentuk di dasar samudra purba 80 juta tahun lampau. Batu ini memberi fakta kuat bahwa dahulu Karangsambung adalah dasar samudra yang terangkat oleh proses geologi. Batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter pada dinding Kali Muncar itu ibarat layar pertunjukan wayang kulit atau kelir dalam bahasa Jawa hingga warga setempat menamainya Watu Kelir.


Sumber: google.com

Kunjungi Objeknya, Jaga Kekayaannya


Telah dikembangkan oleh LIPI sejak 1970-an, pengemasan wisata geologi baru dimulai 15 tahun lalu. Kepala UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (BIKK) LIPI Yugo Kumoro mengatakan, untuk mendukung paket wisata geologi disediakan fasilitas pendukung berupa tempat penginapan, asrama, perpustakaan, dan bengkel kerja kerajinan batu mulia di kawasan kantor BIKK LIPI di Karangsambung.

Kegiatan wisata ilmiah juga meliputi ceramah ilmiah populer, diskusi, kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi penting, melihat koleksi batuan, serta proses pembuatan batu mulia.

Wisatawan bisa mengikuti kegiatan perburuan atau pencarian batuan di aluvial Sungai Luk Ula, sungai terbesar di daerah ini. Sejauh ini ada dua paket yang ditawarkan bagi pengunjung umum, yakni durasi empat jam dan delapan jam. Jumlah rombongan sekitar 40 orang. BIKK LIPI juga membuka kesempatan wisata dengan durasi lebih lama. Paket wisata edukatif ini relatif terjangkau, yakni Rp 5.000 per orang yang berdurasi empat jam dan Rp 10.000 per orang untuk durasi delapan jam. Jika menginap, tarif fasilitas asrama pun Rp 60.000 per malam. Pengunjung umum kebanyakan dari kalangan pelajar, mulai SD hingga perguruan tinggi. Kalau khusus mahasiswa geologi memang sudah sejak lama menjadikan kawasan ini sebagai lokasi praktik dengan durasi kunjungan minimal satu bulan, kata Yugo.

LIPI juga mempromosikan paket wisata edukasi ini ke sejumlah institusi pendidikan di Jateng dan Yogyakarta. Diharapkan paket kunjungan wisata minat khusus ini dapat disatukan dengan wisata edukatif lain di Yogyakarta serta wisata karst Gombong Selatan.

Di sinilah bukti evolusi lempeng tektonik sejak lebih dari 120 juta tahun yang lalu. Di sinilah lantai samudera purba berada" kata Edi Hidayat, kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (UPT BIKK) Karangsambung Kebumen LIPI di Kampus LIPI Karangsambung, Kebumen. Edi berharap agar situs geologi Karangsambung tetap lestari demi ilmu pengetahuan. Karena saat ini banyak masyarakat yang dengan sengaja menambang batu-batu di kawasan tersebut. Padahal batu alam di kawasan tersebut merupakan aset ilmiah yang sejatinya bisa diwariskan untuk anak cucu atau bukan sekedar ditambang untuk alasan ekonomi.

"Dulu, tahun 1990-an banyak geolog ke Karangsambung. Maka ini seharusnya kita lestarikan. Ini salah satu yang penting di Karangsambung, bahkan bagi Indonesia dan dunia. Di sini sampai banyak peneliti dan mahasiswa termasuk yang S-3 belajar ke sini. Ini jadi tempat cagar alam yang perlu dilindungi, " Kalau ini hilang maka ada ilmu pengetahuan yang hilang di Karangsambung, " kata beliau.

 Yaa, jadi demikian ulasan dari penulis mengenai geowisata dan cagar alam Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Semoga dapat menghibur serta menambah wawasan bagi para pembaca sekalian. Tetap lakukan protokol kesehatan apabila ingin bepergian, selalu pakai masker, bawa vitamin, gunakan hand sanitizer, cuci tangan di tempat yang disediakan serta tetap jaga jarak untuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar tetap sehat dimasa pandemi ini. Jika belum berani berwisata setidaknya mulai buat dulu saja perencanaannya. Be positive and stay (testing) negative guys!

 

Ditulis oleh Priska Grace, S.I.P

Artikel terkait:

http://lipi.go.id/berita/informasi-karangsambung-sebagai-kawasan-geologi-perlu-disebarkan-lebih-gencar/11830

http://lipi.go.id/berita/single/Memahami-Semesta-di-Karangsambung/6861

http://lipi.go.id/lipimedia/lipi:-karangsambung-di-kebumen-lantai-samudera-purba/11836




Comments

Popular posts from this blog

MUDIK: Tradisi Fenomenal Sebelum Hari Raya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah yang diprediksi jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 kondisi jalanan terpantau ramai. Pasalnya tradisi mudik mulai dijalankan kembali setelah dua tahun terhenti akibat pandemi. Pandemi pada awal tahun 2020 menyebabkan tradisi mudik mandeg ; jalan antar kota ditutup, lebaran dirumah saja, tidak ada halal-bihalal maupun silaturahmi secara langsung. Terjadi perubahan secara signifikan dalam merayakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap tahun. Silaturahmi dilakukan secara daring dengan aplikasi komunikasi virtual, bersalaman dan ucapan hari raya digantikan dengan chat via media sosial disertai emotikon—atau jika beruntung, saling berkirim hampers alias parcel untuk orangtua, sanak saudara, serta teman dekat. Sebenarnya sejak kapan sih tradisi mudik ini dimulai? Pada tulisan kali ini penulis akan mengulas mengenai tradisi yang menjadi salah satu fenomena besar di Indonesia ini serta makna serta   peranan pemerintah dalam kebijakan yang me...

PESONA INDONESIA: BALKONDES, Inovasi Baru Bagi Etalase Wisata Desa

       Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2020, pandemi corona virus telah berlangsung hampir satu tahun lamanya. Begitu banyak momen terlewat tetapi juga banyak pengalaman baru yang didapatkan, terutama terkait dengan penggunaan teknologi. Yang dekat harus dijauhkan, yang jauh dihubungkan dengan teknologi virtual. Untuk menghibur akhir tahunmu, berikut adalah informasi terkait kepariwisataan Indonesia yang telah banyak dikembangkan oleh Pemerintah dan masyarakat sekitar, namun sayangnya akhir-akhir ini melesu karena pandemi. Jangan khawatir, kamu bisa mengunjunginya setelah pandemi ini mereda. Lebih baik mulai kenali dulu tujuan  trip- mu dan siapkan budget agar nanti dapat berwisata dengan aman enjoy. Mari kita berkenalan dengan Balkondes sebagai rekomendasi tempat wisata dari penulis kali ini! Apa sih BALKONDES itu?      Balkondes merupakan akronim dari Balai Ekonomi Desa, adalah sebuah terobosan baru untuk meningkatkan perekonomi...