Geowisata
Indonesia: Lantai Dasar Samudera Purba yang Kaya
Gugusan perbukitan membentang di kanan dan kiri jalan saat memasuki perjalanan bukit dan lembah menuju aliran Sungai Luk Ula, yang berada sekitar 19 km dari sebelah utara pusat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gugusan tersebut memiliki dinding-dinding batu raksasa dengan menampilkan lapisan-lapisan perbatuan yang unik. Beberapa pakar geologi internasional bahkan menyebutnya sebagai Yellowstone National Park-nya Indonesia—itulah Karangsambung.
Karangsambung merupakan objek wisata sekaligus cagar alam geologi yang dikelola oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Situs geologi Karangsambung memiliki berbagai jenis batuan; batuan beku, batuan metamorf, batuan sedimen. Karangsambung merupakan lantai samudera purba yang kini muncul ke permukaan tanah sehingga memiliki kekayan fosil dan bebatuan alam. Kawasan Karangsambung sendiri ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi Nasional pada 10 November 2006 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Total luas situs geologi tersebut kini seluas 22.150 meter persegi yang membentang di tiga kabupaten yaitu Kebumen, Wonosobo dan Banjarnegara. Lokasi terluas ada di Kebumen.
Jika Anda ingin mengetahui bentuk batuan dasar pembetuk Pulau Jawa; penasaran mengenai penampakan gugusan lava (berupa bantalan beku) yang menempel diatas batuan sedimen yang hanya ada di pematang samudera—seperti halnya ditemui di Hawaii, semua kekayaan geologi purba ini terbentang di situs Karangsambung.
Karangsambung:
Black Box Alam Semesta?
Area
Karangsambung menjadi miniatur geologi Indonesia karena sejarah dan proses
terbentuknya yang dimulai sejak ratusan tahun silam. Memang nama Karangsambung
masih asing bagi telinga wisatawan awam, tetapi tidak bagi pecinta geowisata
tanah air hingga mancanegara. Kawasan
cagar alam geologi seluas sekitar 22.000 hektar ini layaknya kotak hitam (black
box) bagi segala proses alam semesta.
Karangsambung menyimpan pelbagai monumen geologi yang
sangat unik. Ini tidak lepas dari letak geografis wilayah ini sekitar 120 juta
tahun lalu yang merupakan dasar laut dan menjadi pertemuan lempeng benua dan
samudra. Proses subduksi selama ratusan juta tahun menyebabkan batu-batuan
purba itu tersingkap ke permukaan. Kepala Bagian Tata Usaha Unit Pelaksana
Teknis Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung LIPI, Suyamto
mengatakan, beberapa situs bisa dipelajari untuk mengetahui sejarah Bumi,
khususnya proses evolusi lempeng Asia bagian tenggara.
Misalnya,
situs batuan metamorf serpentinit di Pucangan. Batuan ini berwarna kehijauan dan
berasal dari perut Bumi di bawah lantai samudra. Batu ini merupakan batu
ultrabasa hasil pembekuan magma pada kerak samudra. Formasi batu ini berubah
saat bersentuhan dengan air laut dan berubah lagi ketika masuk zona tunjaman
dan terangkat ke permukaan Bumi.
Salah satu kekayaan utama cagar alam geologi ini adalah
batuan metamorf sekis mika di Kali Brengkok. Di sini pengunjung bisa menyentuh
langsung batuan mineral mika yang berkilau kala tertimpa sinar Matahari. Batuan
tertua ini tersingkap dan menjadi pembentuk fondasi Pulau Jawa. Pengukuran
dengan radioaktif menunjukkan batuan ini berumur 121 juta tahun, dari zaman
kapur.
Fenomena geologi lain yang tersingkap di kawasan yang
secara geografis membentang di Kebumen, Banjarnegara, dan Wonosobo adalah situs
batu rijang dan lava basal berbentuk bantal di Kali Muncar. Batuan sedimen ini
terbentuk di dasar samudra purba 80 juta tahun lampau. Batu ini memberi fakta
kuat bahwa dahulu Karangsambung adalah dasar samudra yang terangkat oleh proses
geologi. Batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar 100 meter pada dinding
Kali Muncar itu ibarat layar pertunjukan wayang kulit atau kelir dalam bahasa
Jawa hingga warga setempat menamainya Watu Kelir.
Kunjungi
Objeknya, Jaga Kekayaannya
Telah dikembangkan oleh LIPI sejak 1970-an, pengemasan wisata geologi baru dimulai 15 tahun lalu. Kepala UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung (BIKK) LIPI Yugo Kumoro mengatakan, untuk mendukung paket wisata geologi disediakan fasilitas pendukung berupa tempat penginapan, asrama, perpustakaan, dan bengkel kerja kerajinan batu mulia di kawasan kantor BIKK LIPI di Karangsambung.
Kegiatan
wisata ilmiah juga meliputi ceramah ilmiah populer, diskusi, kunjungan lapangan
ke sejumlah lokasi penting, melihat koleksi batuan, serta proses pembuatan batu
mulia.
Wisatawan bisa mengikuti kegiatan perburuan atau pencarian
batuan di aluvial Sungai Luk Ula, sungai terbesar di daerah ini. Sejauh ini ada
dua paket yang ditawarkan bagi pengunjung umum, yakni durasi empat jam dan
delapan jam. Jumlah rombongan sekitar 40 orang. BIKK LIPI juga membuka
kesempatan wisata dengan durasi lebih lama. Paket wisata edukatif ini relatif
terjangkau, yakni Rp 5.000 per orang yang berdurasi empat jam dan Rp 10.000 per
orang untuk durasi delapan jam. Jika menginap, tarif fasilitas asrama pun Rp
60.000 per malam. Pengunjung umum kebanyakan dari kalangan pelajar, mulai SD
hingga perguruan tinggi. Kalau khusus mahasiswa geologi memang sudah sejak lama
menjadikan kawasan ini sebagai lokasi praktik dengan durasi kunjungan minimal
satu bulan, kata Yugo.
LIPI juga mempromosikan paket wisata edukasi ini ke
sejumlah institusi pendidikan di Jateng dan Yogyakarta. Diharapkan paket
kunjungan wisata minat khusus ini dapat disatukan dengan wisata edukatif lain
di Yogyakarta serta wisata karst Gombong Selatan.
“Di sinilah bukti evolusi
lempeng tektonik sejak lebih dari 120 juta tahun yang lalu. Di sinilah lantai
samudera purba berada" kata Edi Hidayat, kepala Unit Pelaksana Teknis
Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (UPT BIKK) Karangsambung Kebumen LIPI di
Kampus LIPI Karangsambung, Kebumen. Edi berharap agar situs geologi
Karangsambung tetap lestari demi ilmu pengetahuan. Karena saat ini banyak
masyarakat yang dengan sengaja menambang batu-batu di kawasan tersebut. Padahal
batu alam di kawasan tersebut merupakan aset ilmiah yang sejatinya bisa
diwariskan untuk anak cucu atau bukan sekedar ditambang untuk alasan ekonomi.
"Dulu, tahun 1990-an banyak geolog ke Karangsambung.
Maka ini seharusnya kita lestarikan. Ini salah satu yang penting di
Karangsambung, bahkan bagi Indonesia dan dunia. Di sini sampai banyak peneliti
dan mahasiswa termasuk yang S-3 belajar ke sini. Ini jadi tempat cagar alam
yang perlu dilindungi, " Kalau ini hilang
maka ada ilmu pengetahuan yang hilang di Karangsambung, " kata beliau.
Yaa, jadi demikian ulasan dari penulis mengenai geowisata dan cagar alam Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Semoga dapat menghibur serta menambah wawasan bagi para pembaca sekalian. Tetap lakukan protokol kesehatan apabila ingin bepergian, selalu pakai masker, bawa vitamin, gunakan hand sanitizer, cuci tangan di tempat yang disediakan serta tetap jaga jarak untuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar tetap sehat dimasa pandemi ini. Jika belum berani berwisata setidaknya mulai buat dulu saja perencanaannya. Be positive and stay (testing) negative guys!
Ditulis
oleh Priska Grace, S.I.P
Artikel terkait:
http://lipi.go.id/berita/single/Memahami-Semesta-di-Karangsambung/6861
http://lipi.go.id/lipimedia/lipi:-karangsambung-di-kebumen-lantai-samudera-purba/11836



Comments
Post a Comment