Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah yang diprediksi jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 kondisi jalanan terpantau ramai. Pasalnya tradisi mudik mulai dijalankan kembali setelah dua tahun terhenti akibat pandemi. Pandemi pada awal tahun 2020 menyebabkan tradisi mudik mandeg; jalan antar kota ditutup, lebaran dirumah saja, tidak ada halal-bihalal maupun silaturahmi secara langsung. Terjadi perubahan secara signifikan dalam merayakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap tahun. Silaturahmi dilakukan secara daring dengan aplikasi komunikasi virtual, bersalaman dan ucapan hari raya digantikan dengan chat via media sosial disertai emotikon—atau jika beruntung, saling berkirim hampers alias parcel untuk orangtua, sanak saudara, serta teman dekat.
Sebenarnya
sejak kapan sih tradisi mudik ini dimulai? Pada tulisan kali ini penulis akan
mengulas mengenai tradisi yang menjadi salah satu fenomena besar di Indonesia ini
serta makna serta peranan pemerintah dalam
kebijakan yang mendukung mudik Lebaran tahun 2022 ini.
Sejarah
Mudik
Bagi masyarakat Indonesia, mudik telah menjadi fenomena
sosial yang rutin dilakukan oleh para perantau untuk kembali ke kampung
halamannya dan biasanya dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata mudik memiliki pengertian berlayar
atau pergi ke udik (bahasa Palembang: kampung), pulang ke kampung halaman. Istilah
mudik mulai populer sejak tahun 1970-an, tetapi akar sejarahnya sudah ada sejak
zaman kerajaan Majapahit. Konon, kegiatan mudik dilakukan oleh para petani Jawa
untuk kembali ke kampung halamannya atau daerah asalnya untuk membersihkan
makam leluhurnya.
Urbanisasi
menjadi salah satu penyebab maraknya fenomena mudik. Ketimpangan wilayah telah terjadi
sejak periode kolonial yang menjadikan wilayah Jawa menjadi pusat pemerintahan
dan pembangunan. Sehingga bagi kaum muda usia produktif wilayah perkotaan yang
maju dengan pesat memang menarik dan lebih menjanjikan kesempatan perbaikan
ekonomi disbanding dengan kesempatan di desa yang masih sedikit. Hal ini yang
kemudian mendorong masyarakat desa untuk bermigrasi.
Makna
Mudik
Menurut sejarawan Universitas Gajah Mada, Dr. Abdul Wahid,
M.Hum, mudik memiliki makna melepas kerinduan bagi para pekerja yang merantau
dari tanah kelahirannya sehingga fenomena mudik ini menjadi euforia luar biasa,
tidak hanya bagi umar muslim melainkan bagi seluruh masyarakat Indonesia
Mudik
dalam Bahasa Jawa merupakan sebuah akronim dari kata mulih dhilik yang
berarti pulang sebentar. Para perantau pulang sebentar untuk dapat merayakan
hari raya bersama dengan keluarga yang berada di kampung halaman sebelum
kembali melanjutkan kegiatan untuk bekerja di perantauan. Sehingga momen mudik ini menjadi suatu momen
yang spesial bagi sebagian besar orang karena dapat bersilaturahmi setelah satu
tahun tidak berjumpa.
Dengan demikian momen mudik pada Lebaran tahun 2022 kali ini
pun sangat spesial mengingat bukan hanya satu tahun tidak dipertemukan dengan
saudara yang telah saling terpisah, melainkan hampir tiga tahun. Disamping
memunculkan euforia yang lebih besar perlu juga diwaspadai untuk kemungkinan
akan bahaya penularan Covid-19 yang masih ada. Pemerintah juga membuat upaya
preventif dengan mewajibkan para pemudik yang menggunakan kendaraan umum untuk
wajib sudah melakukan vaksin booster (vaksin ketiga).
Dari tradisi mudik ini, perlu dipahami mengenai fenomena tahunan yang sudah berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan berubahnya jaman sehingga kegiatan mudik ini menjadi perhatian bagi pemerintah dan masuk dalam agenda nasional. Pemerintah mau tak mau harus memberikan fasilitas yang mendukung agenda tahunan ini. Mulai dari pengaturan lalu-lintas agar para pemudik dapat melakukan perjalanan dengan nyaman, moda transportasi yang mempermudah pemudik, serta dukungan dalam fasilitas umum seperti hadirnya rest area di titik-titik sepanjang jalan tol dan fasilitas kesehatan juga keamanan untuk menunjang keselamatan para pemudik dari arus mudik hingga arus balik.
Demikian
ulasan dari penulis mengenai tradisi mudik beserta perkembangannya saat ini. Tetap
lakukan protokol kesehatan apabila bepergian, selalu pakai masker, bawa vitamin,
gunakan hand sanitizer, cuci tangan di tempat yang disediakan serta
tetap jaga jarak untuk menjaga diri sendiri dan orang lain agar tetap sehat
dimasa pandemi ini. Be positive and stay (testing) negative guys!
Ditulis oleh Priska Grace
Artikel terkait:
https://newsdetik.com/kolom/d-6055866/fenomena-mudik-sejarah-dan-ketentuan-hukumnya



Comments
Post a Comment