Saat ini kita telah memasuki masa digitalisasi dimana hampir di setiap aspek aktivitasnya memanfaatkan sistem otomatis untuk mempermudah masyarakat, masa ini sering juga disebut sebagai masa industrialisasi 4.0. Bersamaan dengan perubahan yang terjadi tentu hal ini juga menimbulkan pergeseran paradigma dan menjadi tantangan yang baru bagi masyarakat secara umum, terkhusus bagi generasi muda bangsa atau disebut-sebut sebagai generasi milenial. Generasi milenial merupakan generasi yang spesial dengan ciri khas tersendiri yang terkesan individualistik. Kebergantungan terhadap teknologi begitu tinggi dikarenakan generasi milenial lahir saat televisi sudah berwarna, keberadaan handphone yang semakin canggih, dan jaringan internet yang dikembangkan secara masif sehingga bukan hal yang aneh jika generasi ini mahir dalam teknologi. Teknologi yang berkembang pesat dan menjadi alat bantu bagi umat manusia menjadikan tingkat individualitas semakin tinggi serta menimbulkan sikap apatis terhadap lingkungan, baik sosial maupun tempat tinggalnya.
Milenial Sasaran Empuk Ajang Politik Praktis?
Presentase generasi muda Indonesia yang cukup besar menjadi sasaran empuk bagi politisi yang ingin mengajukan diri dalam ajang pemilihan dan saling berlomba untuk tampil sebagai politisi yang ideal. Berbicara tentang politik dan millenial, momentum yang paling eye-cacthing terlihat dalam Pemilu 2019. Dilansir dari jurnal politik Universitas Jambi, menurut Koordinator Pusat Peneliti Politik LIPI, Sarah Suaini Siregar, berdasarkan hasil survey lembaganya ada sekitar 35 persen sampai 40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi pemilih generasi millenial. Melihat cukup besarnya persentase pemilih tersebut, merupakan pemandangan politik yang sungguh menawan, tentu bukan hanya bagi penyelenggara pemilu saja tapi juga partai politik yang menilai hal tersebut ibarat lahan basah yang berharga.
Pasalnya kondisi idealis pemuda yang mudah sekali dipengaruhi tentang keberpihakan. Peran generasi milenial sebagai pemilih yang bersumbangsih cukup besar terhadap suara hasil pemilihan menjadikan generasi memiliki posisi yang sangat strategis untuk menjadi objek sasaran pemungutan suara. Dewasa ini semakin banyak politisi sadar akan pentingnya peran media sosial sebagai cara untuk memperoleh kemenangan dalam Pemilu. Seperti pada Pemilu 2014, diperkirakan ada sekitar 18,3 juta pemilih pemula dari kalangan generasi muda berusia 17-24 tahun. Dari usia yang masih muda, sangat mungkin apabila sebagian besar adalah pengguna media sosial. Sehingga generasi ini sangat diharapkan untuk menggunakan hak pilihnya karena telah menjadi incaran para partai politik dan politisi untuk diraih simpati serta suaranya.
Pergeseran Bentuk Partisipasi Politik
Generasi muda dianggap kerap mengalami putus hubungan dengan komunitasnya, tidak berminat pada proses politik dan persoalan politik, serta memiliki tingkat kepercayaan rendah pada politisi serta sinis terhadap berbagai lembaga politik dan pemerintahan (Pirie & Worcester, 1998; Haste & Hogan, 2006).
Pandangan ini sering kali dibenarkan dengan adanya data yang menunjukkan bahwa jumlah generasi muda yang memutuskan tergabung dalam partai politik relatif sedikit. Kebanyakan dari mereka juga cenderung memilih untuk tidak memilih (golput) dalam Pemilu. Memberikan hak pilih dalam Pemilu memang salah satu wujud dari partisipasi politik., tetapi partisipasi politik tidak semata-mata diukur berdasarkan hal itu saja. Ada banyak bentuk partisipasi politik, seperti mengirim surat (pesan) kepada pejabat pemerintahan, turut erta dalam aksi protes atau demonstrasi, menjadi anggota partai politik, menjadi anggota organisasi kemasyarakatan, mencalonkan diri untuk jabatan publik, memberikan sumbangan kepada partai atau politisi, hingga ikut serta dalam acara penggalangan dana.
Namun, sejumlah studi menunjukkan kekeliruan pandangan sebelumnya yang menganggap generasi muda tidak tertarik pada politik. Studi tersebut menyebutkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang dinilai paling peduli terhadap berbagai isu politik (Harris, 2013). Penelitian yang dilakukan EACEA (2013) terhadap generasi muda di tujuh negara Eropa menghasilkan kesimpulan bahwa generasi muda mampu mengemukakan preferensi dan minat mereka terhadap politik. Sebagian dari mereka bahkan lebih aktif dari kebanyakan generasi yang lebih tua. Mereka juga menginginkan agar pandangan mereka lebih bisa didengar.
Bentuk partisipasi politik generasi milenial pun cenderung menunjukkan perubahan dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Di masa lalu sebagian besar partisipasi politik lebih bersifat konvensional dan cenderung membutuhkan waktu lama, seperti aksi boikot, sedangkan tindakan politik (political actions) generasi muda dewasa ini menampilkan suatu hal yang terbilang baru karena tidak pernah terjadi pada masa satu dekade lalu. Seperti partisipasi politik melalui internet dan media sosial. Tindakan politik generasi muda masa kini memiliki sifat cenderung lebih individual, bersifat spontan (ad-hoc), berdasarkan isu tertentu dan kurang terkait dengan perbedaan sosial. Hal ini terjadi akibat pengaruh globalisasi dan individualisme serta konsumsi dan kompetisi.
Adapun pandangan milenial terhadap politik sendiri, dilansir dari Merdeka.com, pelbagai pencitraan yang begitu kental dalam kampanye membuat sebagian besar generasi ini bosan menjadi penonton debat politik. Dalam laporan bertajuk Indonesian Millenial Report 2019 menunjukkan hanya 23,4 persen saja yang gemar mengikuti berita politik. Kaum millenial cenderung menganggap politik hanya untuk orang – orang yang kuno atau generasi tua. Sikap ini menjadi identitas kebanyakan milenial serta membuat generasi ini enggan untuk terjun langsung dalam ranah politik negeri. Generasi milenial menyukai sesuatu yang praktis dan instan. Sehingga bagi mereka, pemimpin era milenial haruslah melek teknologi dan paham keinginan rakyat. Milenial juga tidak butuh janji manis melainkan bukti. Maka menjadi kepala negara tidaklah mudah, melainkan harus memiliki tekad yang kuat serta hati yang tulus bekerja dalam melayani rakyat.
Dalam tulisan selanjutnya penulis akan membahas mengenai pendidikan politik bagi milenial yang seharusnya diberikan guna memberi pencerdasan terhadap pemilih millenial ini agar tidak hanya menjadi objek politik. Stay classy!
Ditulis oleh Priska Grace, S.I.P
Sumber:
Merdeka.com (https://www.merdeka.com/khas/politik-di-mata-milenial.html)
Kompas.com
(https://nasional.kompas.com/read/2018/09/17/19090001/beda-cara
-generasi-milenial-dalam-politik?page=all)
Suara.com (https://yoursay.suara.com/news/2020/03/19/171223/peran-
generasi-milenial-dalam-dunia-politik)
Journal Universitas Jambi (https://www.unja.ac.id/2020/05/04/milenial-

Comments
Post a Comment