Skip to main content

BRAINSTORM: Fenomena Calon Tunggal dalam Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Serentak Tahun 2020

Pilkada Serentak Tahun 2020 telah dilangsungkan pada tanggal 9 Desember 2020. Pemilihan 270 kepala daerah secara bersamaan dengan lebih dari 100 juta warga yang terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT) ini akan memberikan hak suaranya dalam 9 Pemilihan Gubernur (Pilgub), 224 Pemilihan Bupati (Pilbup), dan 37 Pemilihan Waki Kota (Pilwalkot). 

Pilkada kali ini dapat dikatakan sebagai pesta demokrasi yang besar bagi sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan demokratis seperti Indonesia. Dengan TPS yang tersebar di 309 kabupaten dan kota, Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU-RI) menetapkan timeline yang berawal dari tanggal 26 September 2020 – 5 Desember 2020 untuk pelaksanaan kampanye, dilanjut dengan masa tenang pada 6 - 8 Desember 2020 serta pemilihan serentak yang dilakukan pada hari Rabu, 9 Desember 2020 lalu. Adapun proses rekapitulasi hasil penghitungan suara akan dilakukan pada 9 – 26 Desember 2020.

Sebanyak 25 kabupaten/kota dalam Pilkada Serentak ini memiliki calon tunggal kata Komisioner KPU-RI, Ilham Saputra (14/11) di Jakarta dilansir dari laman antaranews.com. Hal ini dapat diketahui secara lebih mendetail dari laman infopemilu.kpu.go.id. Banyaknya jumlah kabupaten/kota dengan calon tunggal hingga menyebabkan adanya masa perpanjangan untuk pendaftaran pasangan calon kepala daerah bagi daerah dengan bakal pasangan calon tunggal. Namun hingga akhir waktu pendaftaran terdapat 28 kota/kabupaten dengan calon tunggan dan 23 diantaranya merupakan petahana.

Pilkada dengan calon tunggal sebenarnya sudah bukan hal baru, pasalnya sejak dilaksanakannya Pilkada Serantak dari tahun 2015 sudah terdapat fenomena ini. Pada Pilkada 2015, terdapat tiga calon tunggal, Pilkada 2017 sembilan calon tunggal, dan Pilkada 2018 terdapat 16 calon tunggal. Data ini memberikan informasi bahwa jumlah bakal pasangan calon tunggal meningkat dalam tiga pilkada sebelumnya. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fenomena calon tunggal, yang pertama tidak dapat dipungkiri bahwa imej yang kuat dari kepala daerah sebelumnya menjadi bayang-bayang bagi calon pemimpin selanjutnya dan akan sulit tergeser apabila citra mereka sangat baik selama memimpin. Hal ini juga menyebabkan kebanyakan calon tunggal merupakan petahana.

Kedua, banyaknya calon tunggal juga dapat mengindikasi bahwa kaderisasi parpol belum optimal. Perlu menjadi perhatian bahwa akhir-akhir ini sikap pragmatis terhadap parpol meningkat. Jika demikian maka diperlukan kerja ekstra dari parpol untuk menguatkan Lembaga agar Kembali mendapat tempat di hati masyarakat. Adanya proses seleksi kader calon kepala daerah yang ketat oleh parpol terkait dengan integritas dan akuntabilitas tokoh dapat menjadi langkah yang realistis.

Selanjutnya, situasi Pilkada dalam masa pandemik juga turut andil dalam kemunculan calon tunggal ini. Para pemodal politik juga pasti akan berhitung dengan lebih berhati-hati dalam mengucurkan dananya terkait potensi keuntungan serta kerugian sebelum mendukung calon kepala daerah. Besar kemungkinan kecilnya profit yang didapat bahkan memunculkan kerugian menyebabkan pemodal politik enggan untuk mengusung calon kepala daerah dan lebih memilih untuk melakukan koalisi dengan parpol untuk calon kepala daerah yang sudah pasti dapat memenangkan kontestasi. Hingga akhirnya partai-partai membentuk koalisi terhadap calon tunggal yang kemungkinan menang melawan kotak kosong lebih besar. Selain itu besarnya dukungan massa terhadap suatu parpol di suatu daerah juga dapat menjadi faktor dalam kemunculan calon tunggal.

Oleh: Priska Grace, S.I.P 

Sumber:

https://www.antaranews.com/berita/1716662/bawaslu-tren-calon-tunggal-dalam-pilkada-kian-meningkat

https://www.antaranews.com/berita/1724590/pilkada-2020-kpu-25-kabupaten-kota-terdapat-calon-tunggal

https://nasional.kompas.com/read/2020/09/14/14274881/ini-daftar-25-daerah-dengan-bakal-paslon-tunggal-di-pilkada-2020?page=all

https://nasional.kompas.com/read/2020/09/10/08484961/peneliti-sebut-fenomena-calon-tunggal-di-pilkada-2020-dampak-pandemi?page=all

https://nasional.kompas.com/read/2020/09/14/21243941/perludem-fenomena-bakal-calon-tunggal-jadi-strategi-menangkan-pilkada?page=all

https://www.republika.id/posts/10095/fenomena-calon-tunggal

https://tirto.id/daftar-pilkada-2020-dengan-kotak-kosong-vs-calon-tunggal-f7CJ 

 

 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PESONA INDONESIA: Karangsambung, Black Box Alam Semesta di Pulau Jawa

Halo! Apa kabar pembaca hari ini? Melewati triwulan pertama di tahun 2021 apakah menyenangkan? Penulis berharap kehidupan pembaca berjalan dengan baik dan lancar untuk segala urusannya. Hehe.. Untuk mengurangi kejenuhan sebelum menempuh triwulan kedua di tahun 2021 ini penulis mau ajak pembaca jalan-jalan nih! Kali ini kita bakal menyusuri daerah selatan pulau Jawa, kira-kira dimana yaa? Bukan Jogja, bukan. Dalam Pesona Indonesia kali ini kita akan mampir ke salah satu geowisata yang mahaseru buat para pecinta sejarah dan geologi. Daripada terlalu lama yuk disimak apa saja keseruan dari rekomendasi wisata kali ini! Sumber: google.com Geowisata Indonesia: Lantai Dasar Samudera Purba yang Kaya Gugusan perbukitan membentang di kanan dan kiri jalan saat memasuki perjalanan bukit dan lembah menuju aliran Sungai Luk Ula, yang berada sekitar 19 km dari sebelah utara pusat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gugusan tersebut memiliki dinding-dinding batu raksasa dengan menampilkan lapisan-lapis...

MUDIK: Tradisi Fenomenal Sebelum Hari Raya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah yang diprediksi jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 kondisi jalanan terpantau ramai. Pasalnya tradisi mudik mulai dijalankan kembali setelah dua tahun terhenti akibat pandemi. Pandemi pada awal tahun 2020 menyebabkan tradisi mudik mandeg ; jalan antar kota ditutup, lebaran dirumah saja, tidak ada halal-bihalal maupun silaturahmi secara langsung. Terjadi perubahan secara signifikan dalam merayakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap tahun. Silaturahmi dilakukan secara daring dengan aplikasi komunikasi virtual, bersalaman dan ucapan hari raya digantikan dengan chat via media sosial disertai emotikon—atau jika beruntung, saling berkirim hampers alias parcel untuk orangtua, sanak saudara, serta teman dekat. Sebenarnya sejak kapan sih tradisi mudik ini dimulai? Pada tulisan kali ini penulis akan mengulas mengenai tradisi yang menjadi salah satu fenomena besar di Indonesia ini serta makna serta   peranan pemerintah dalam kebijakan yang me...

PESONA INDONESIA: BALKONDES, Inovasi Baru Bagi Etalase Wisata Desa

       Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2020, pandemi corona virus telah berlangsung hampir satu tahun lamanya. Begitu banyak momen terlewat tetapi juga banyak pengalaman baru yang didapatkan, terutama terkait dengan penggunaan teknologi. Yang dekat harus dijauhkan, yang jauh dihubungkan dengan teknologi virtual. Untuk menghibur akhir tahunmu, berikut adalah informasi terkait kepariwisataan Indonesia yang telah banyak dikembangkan oleh Pemerintah dan masyarakat sekitar, namun sayangnya akhir-akhir ini melesu karena pandemi. Jangan khawatir, kamu bisa mengunjunginya setelah pandemi ini mereda. Lebih baik mulai kenali dulu tujuan  trip- mu dan siapkan budget agar nanti dapat berwisata dengan aman enjoy. Mari kita berkenalan dengan Balkondes sebagai rekomendasi tempat wisata dari penulis kali ini! Apa sih BALKONDES itu?      Balkondes merupakan akronim dari Balai Ekonomi Desa, adalah sebuah terobosan baru untuk meningkatkan perekonomi...