Skip to main content

PESONA INDONESIA: Semarang Heritage Tourism

Ibukota Jawa Tengah ini diresmikan pada tanggal 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi 954H dan disahkan oleh Sultan Hadiwijaya (setelah berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga). Pada mulanya Semarang merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno dengan nama Pragota (kini Bergota). Dahulu Pragota merupakan pelabuhan dengan gugusan pulau kecil di depannya akibat pengendapan, gugusan pulau kecil itu akhirnya meluas sehingga membuat sebuah kawasan baru yang kini disebut sebagai ‘Semarang bawah’.

 
Sumber: google.com

Dengan segala hiruk-pikuknya tenyata Semarang memiliki sisi yang mempesona sedari jaman dahulu. Semarang sempat dijuluki sebagai Little Netherland, dikarenakan kondisi geografisnya yang serupa dengan tanah di negeri Belanda. Selain menarik dari segi geografis, secara historis Semarang juga merupakan spot penuh sejarah. Pada 15 Januari 1678, Amangkurat II dari Kesultanan Mataram di Kartasura, menggadaikan Semarang dan sekitarnya kepada VOC sebagai bagian pembayaran hutangnya. Pada tahun 1705, Susuhunan Pakubuwono I menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai bagian dari perjanjiannya karena telah dibantu untuk merebut kembali Keraton Kartasura. Sejak saat itu Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Beberapa tempat bersejarah di Semarang hingga saat ini masih utuh berdiri dan menjadi pilihan sebagai objek wisata, baik domestik maupun mancanegara.

Penulis akan mengulas apa saja objek wisata yang menarik di Kota Semarang sedari jaman old tentunya. Mari kita simak!

1.       Benteng Fort Willem I – Bugisari, Ambarawa

Merupakan benteng dengan arsitektur Belanda yang berlokasi di Bugisari, Lodoyong, Ambarawa. Pengunjung tidak dikenai retribusi untuk masuk, hanya perlu membayar tarif parker kendaraan. Benteng ini dapat dikunjungi mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.

Sumber: google.com

2.       Monumen Palagan – Palagan, Ambarawa

Monumen ini pada mulanya adalah stasiun kereta api. Monumen Palagan buka setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB, monimen ini berlokasi di Jalan Stasiun, Jalan Panjang Kidul No.1, Panjang Kidul, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Monumen ini menyimpan berbagai koleksi lokomotif uap, mulai dari seri B, C, D, sampai CC. Selain koleksi lokomotif juga terdapat berbagai benda antik perkeretaapian, seperti mesin pembuat tiket penumpang jaman dulu, mesin telegraf, lonceng kereta, dan peluit petugas rel kereta. Pengunjung dikenakan tarif tiket masuk seharga Rp 10.000/orang.

Sumber: google.com

3.       Masjid Besar Kauman

Jaman dulu kawasan ini merupakan pusat aktivitas masyarakat di Pasar Induk Johar dan Pasar Yaik. Area ini merupakan ikon dari Kota Semarang serta menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Masjid Besar Kauman didirikan pada pertengahan abad 1575M oleh Sunan Pandan Arang. Demikian Masjid Besar Kauman sebagai masjid tertua di Kota Semarang masih memiliki ikatan sejarah yang erat dengan berdirinya kota. Masjid ini juga menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang mengumumkan kemerdekaan Indonesia secara terbuka hanya beberapa saat setelah proklamasi dibacakan.

Sumber: google.com

4.       Masjid Layur

Berlokasi di Jalan Layur Kampung Melayu, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Semarang yang masih kokoh berdiri. Masjid tersebut dibangun pada tahun 1743 oleh penduduk yang sebagian besar menghuni kawasan tersebut berasal dari ras Melayu. Hal yang unik dari masjid ini adalah bentuk bangunan yang kental dengan bangunan di Timur Tengah. Hal tersebut tampak pada menara yang berada di depan pintu masuk masjid. Adapun bangunan utama masjid bergaya khas Jawa dengan atap masjid susun tiga.

Dari gaya arsitekturnya, Masjid Layur merupakan percampuran dari tiga budaya yakni, Jawa, Melayu, dan Arab. Dari segi keasliannya, Masjid Layur hanya mendapat sedikit perbaikan dan penggantian pada bagian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola di sisi kanan masjid.

Sumber: google.com

5.       Sam Poo Kong

Klenteng ini menjadi salah satu situs sejarah tentang perkembangan Islam di Semarang yang disebarkan seorang penjelajah dari China bernama Laksamana Cheng Ho. Klenteng Sam Poo Kong terletak di Jalan Simongan Raya nomor 129, Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang.

Tidak hanya bernuansa Tionghoa, klenteng ini juga memiliki nuansa Islam dengan corak pada langit-langit berwarna hijau dan terdapat bedug. Klenteng ini biasanya menjadi tempat digelarnya festival, seperti peringatan berdirinya Sam Poo Kong dan hari raya Imlek. Harga tiket pada hari biasa adalah Rp 8.000/orang dewasa dan Rp 5.000/anak, sedangkan untuk weekend, harga tiket masuk adalah Rp 12.000 per orang dewasa dan Rp 8.000 per anak.

Sumber: google.com

6.       Semawis (Kawasan Pecinan)

Kawasan ini terbentuk disaat orang-orang etnis Tionghoa berpindah tempat tinggal akibat adanya pemberontakan antara orang etnis dengan pemerintahan Hindia-Belanda. di kawasan Batavia pada 1740 silam. Peristiwa ini dinamakan Geger Pecinan, dimana Belanda mencoba mengumpulkan warga Tionghoa dalam satu wilayah.Tujuannya agar pemerintah Hindia-Belanda mudah dalam mengawasi gerak-gerik orang etnis Tionghoa di Kota Semarang.

Pasalnya, area Pecinan  dekat dengan markas tentara Belanda pada saat itu yakni di Oudestad (Kota Lam). Akhirnya kawasan ini menjadi pusat perdagangan hingga pada tahun 2005 kawasan pecinan mulai mendapat revitalisasi, dari yang semula hanya pusat perdagangan orang-orang etnis Tionghoa kemudian diubah menjadi pusat wisata yang menampilkan kebudayaan orang-orang etnis Tionghoa di Kota Semarang.

Sumber: google.com

7.       Gedung Kesenian Sobokartti

            Bagi pencinta seni dan sejarah, tempat ini wajib masuk dalam daftar kunjungan Anda di Semarang. Gedung Kesenian Sobokartti didirikan oleh Herman Thomas Karsten di tahun 1929 karena kecintaannya terhadap budaya Jawa. Sampai saat ini, gedung teater masih sering menampilkan pertunjukan kesenian berupa pedalangan, tari tradisional, membatik, membuat wayang, serta pentas karawitan.

Sumber: google.com

8.       Kota Lama

Bangunan-bangunan yang berada di kawasan ini memiliki arsitektur khas Eropa. Oleh karena itu, kawasan ini juga dikenal dengan sebutan “Little Netherland”.

Sumber: google.com

Hal ini dikarenakan dulunya kawasan ini merupakan pusat dari perekonomian dan tempat tinggal orang Belanda yang menetap di Semarang. Bermula dari penandatanganan perjanjian antara Kerajaan Mataram dan VOC yang menyerahkan Semarang kepada VOC sebagai pembayaran oleh Amangkurat II. Bangunan pertama yang dibangun adalah benteng bernama Vijfhoek yang menjadi pusat militer. Bangunan ini pernah mengalami fortifikasi pada saat peristiwa Geger Pecinan. Namun, karena perkembangannya tidak pesat, fortifikasi ini dibongkar pada tahun 1824.

9.       Gereja Blenduk

Di dalam Gereja Blenduk juga terdapat benda-benda bersejarah yang sudah lama berada di sana namun masih sangat terawat seperti keberadaan alkitab berbahasa Belanda yang diterbitkan pada tahun 1948, serta organ pipa Baroque yang berasal dari 1700-an.

Sumber: google.com

Gereja ini pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis yang saat itu menduduki Semarang dan menamakan gereja ini dengan GPIB Immanuel. Pada mulanya gereja ini hanya berbentuk seperti rumah panggung khas Jawa, lalu mulai dirombak pada tahun 1787 dan ditambahkan dua menara serta atapnya dirubah menjadi kubah pada tahun 1894.

10.   Lawang Sewu

Merupakan salah satu tempat wisata favorit yang terletak di Jalan Pemuda, Sekayu, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Lawang Sewu didirikan pada 27 Februari 1904. Dulunya, tempat ini disebut Het Hoofdkantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij.

Lawang Sewu memiliki arti seribu pintu. Namun jumlah sebenarnya hanya 928 pintu dengan 425 frame dan 114 ruang kerja, tidak termasuk ruang rapat. Museum ini menyimpan berbagai koleksi perkeretaapian di Indonesia dari masa ke masa. Lawang Sewu juga dapat disewa untuk berbagai kegiatan, seperti pameran, pemotretan, syuting, pesta pernikahan, pentas seni, bazar, dan workshop.

Operasional museum ini dapat dikunjungi setiap hari pukul 07.00-21.00 WIB. Harga tiketnya Rp 10.000/orang dewasa, Rp 5.000/anak, dan Rp 10.000 per wisatawan mancanegara.

Sumber: google.com

Demikian ulasan dari penulis mengenai 10 spot bersejarah di wilayah Semarang yang dapat dijadikan sebagai referensi kunjungan atau wisata bersama teman atau keluarga. Meski saat ini pandemi masih melanda semoga ulasan ini dapat menambah wawasan pembaca. Jaga kesehatan selalu, tetapkan protokol kesehatan apabila berada diluar rumah, sampai jumpa pada seri Pesona Indonesia selanjutnya! Stay tune, stay healthy!

Oleh: Priska Grace

Sumber:

https://www.duniasa.com/2017/05/jalan-jalan-ke-kota-lumpia-kota.html

https://galeriwisata.id/10-wisata-sejarah-di-semarang/

https://tempatwisataunik.com/wisata-indonesia/jawa-tengah/wisata-sejarah-di-semarang

https://travel.kompas.com/read/2020/10/17/070100627/25-tempat-wisata-di-semarang-mulai-dari-alam-sampai-sejarah?page=all

 

Comments

Popular posts from this blog

PESONA INDONESIA: Karangsambung, Black Box Alam Semesta di Pulau Jawa

Halo! Apa kabar pembaca hari ini? Melewati triwulan pertama di tahun 2021 apakah menyenangkan? Penulis berharap kehidupan pembaca berjalan dengan baik dan lancar untuk segala urusannya. Hehe.. Untuk mengurangi kejenuhan sebelum menempuh triwulan kedua di tahun 2021 ini penulis mau ajak pembaca jalan-jalan nih! Kali ini kita bakal menyusuri daerah selatan pulau Jawa, kira-kira dimana yaa? Bukan Jogja, bukan. Dalam Pesona Indonesia kali ini kita akan mampir ke salah satu geowisata yang mahaseru buat para pecinta sejarah dan geologi. Daripada terlalu lama yuk disimak apa saja keseruan dari rekomendasi wisata kali ini! Sumber: google.com Geowisata Indonesia: Lantai Dasar Samudera Purba yang Kaya Gugusan perbukitan membentang di kanan dan kiri jalan saat memasuki perjalanan bukit dan lembah menuju aliran Sungai Luk Ula, yang berada sekitar 19 km dari sebelah utara pusat Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Gugusan tersebut memiliki dinding-dinding batu raksasa dengan menampilkan lapisan-lapis...

MUDIK: Tradisi Fenomenal Sebelum Hari Raya

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah yang diprediksi jatuh pada tanggal 2 Mei 2022 kondisi jalanan terpantau ramai. Pasalnya tradisi mudik mulai dijalankan kembali setelah dua tahun terhenti akibat pandemi. Pandemi pada awal tahun 2020 menyebabkan tradisi mudik mandeg ; jalan antar kota ditutup, lebaran dirumah saja, tidak ada halal-bihalal maupun silaturahmi secara langsung. Terjadi perubahan secara signifikan dalam merayakan tradisi turun-temurun yang dilakukan setiap tahun. Silaturahmi dilakukan secara daring dengan aplikasi komunikasi virtual, bersalaman dan ucapan hari raya digantikan dengan chat via media sosial disertai emotikon—atau jika beruntung, saling berkirim hampers alias parcel untuk orangtua, sanak saudara, serta teman dekat. Sebenarnya sejak kapan sih tradisi mudik ini dimulai? Pada tulisan kali ini penulis akan mengulas mengenai tradisi yang menjadi salah satu fenomena besar di Indonesia ini serta makna serta   peranan pemerintah dalam kebijakan yang me...

PESONA INDONESIA: BALKONDES, Inovasi Baru Bagi Etalase Wisata Desa

       Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2020, pandemi corona virus telah berlangsung hampir satu tahun lamanya. Begitu banyak momen terlewat tetapi juga banyak pengalaman baru yang didapatkan, terutama terkait dengan penggunaan teknologi. Yang dekat harus dijauhkan, yang jauh dihubungkan dengan teknologi virtual. Untuk menghibur akhir tahunmu, berikut adalah informasi terkait kepariwisataan Indonesia yang telah banyak dikembangkan oleh Pemerintah dan masyarakat sekitar, namun sayangnya akhir-akhir ini melesu karena pandemi. Jangan khawatir, kamu bisa mengunjunginya setelah pandemi ini mereda. Lebih baik mulai kenali dulu tujuan  trip- mu dan siapkan budget agar nanti dapat berwisata dengan aman enjoy. Mari kita berkenalan dengan Balkondes sebagai rekomendasi tempat wisata dari penulis kali ini! Apa sih BALKONDES itu?      Balkondes merupakan akronim dari Balai Ekonomi Desa, adalah sebuah terobosan baru untuk meningkatkan perekonomi...